Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tetap Istiqamah Setelah Ramadan | Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr

Tetap Istiqamah Setelah Ramadan | Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr

Apa yang Harus Dilakukan Setelah Ramadan?

Para mukmin telah meninggalkan sebuah musim yang agung dan penuh keutamaan, di mana hati-hati mereka berpaling kepada Allah dengan ibadah dan ketaatan. Mereka berlomba-lomba dalam berbagai bentuk kebaikan dan ibadah: ada yang bersungguh-sungguh mengkhatamkan Al-Qur’an, ada yang memperhatikan kebutuhan fakir miskin, para janda, dan anak yatim, ada yang giat dalam shalat dan qiyamullail, dan ada pula yang mengumpulkan berbagai macam amal kebaikan yang dimudahkan oleh Allah baginya. Masing-masing memiliki jalannya dalam berlomba menuju kebaikan. Betapa besar keuntungan mereka! Betapa luar biasa pahala yang mereka peroleh! Maka, selamat bagi mereka atas keberuntungan yang telah diraih.

Namun, meskipun kaum muslimin telah meninggalkan Ramadan—bulan penuh ampunan dan pembebasan dari api neraka, serta bulan kompetisi dalam ketaatan kepada Allah—mereka tidak meninggalkan pintu-pintu kebaikan. Musim-musim kebaikan masih terus datang silih berganti. Oleh karena itu, seorang mukmin hendaknya memanfaatkan hidupnya dan keberadaannya di dunia ini untuk meraih setiap kesempatan dalam melakukan ketaatan, berlomba dengan orang-orang yang bersegera dalam kebaikan, dan mendekatkan diri kepada Allah, Sang Pemilik segala urusan.

Tanda Diterimanya Ibadah Ramadan

Di antara tanda diterimanya suatu ibadah adalah mengikuti ibadah tersebut dengan ketaatan lainnya. Kebaikan akan selalu mengundang kebaikan berikutnya. Para ulama rahimahumullah mengatakan bahwa salah satu tanda diterimanya puasa dan qiyam di bulan Ramadan adalah keadaan seseorang yang tetap berada dalam ketenangan, ketakwaan, dan kesyukuran kepada Allah, serta terus berusaha mendekatkan diri kepada-Nya. Jika seseorang seperti itu setelah Ramadan, maka itu adalah tanda penerimaan amal dan kebaikan. Namun, jika setelah Ramadan seseorang justru berpaling dari ketaatan dan kembali kepada maksiat serta kelalaian, maka itu bukanlah pertanda baik. Seorang ulama salaf pernah berkata ketika diberitahu tentang orang-orang yang hanya giat beribadah di bulan Ramadan lalu kembali bermaksiat setelahnya, “Seburuk-buruk kaum adalah mereka yang tidak mengenal Allah kecuali di bulan Ramadan.”

Sesungguhnya, Tuhan bagi bulan Ramadan adalah Tuhan bagi bulan Syawal dan seluruh bulan lainnya. Sebagaimana perkataan sebagian ulama salaf, “Jadilah seorang Rabbani, bukan sekadar Ramadhani.” Artinya, jangan jadikan ketaatan kepada Allah hanya terbatas dalam bulan Ramadan, tetapi hendaknya sepanjang hidup seseorang dijadikan sebagai musim untuk taat kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman:
Ùˆَاعْبُدْ رَبَّÙƒَ Ø­َتَّÙ‰ٰ ÙŠَØ£ْتِÙŠَÙƒَ الْÙŠَÙ‚ِينُ
(“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan (kematian).” (QS. Al-Hijr: 99))
ÙŠَا Ø£َÙŠُّÙ‡َا الَّØ°ِينَ آمَÙ†ُوا اتَّÙ‚ُوا اللَّÙ‡َ Ø­َÙ‚َّ تُÙ‚َاتِÙ‡ِ ÙˆَÙ„َا تَÙ…ُوتُÙ†َّ Ø¥ِÙ„َّا ÙˆَØ£َÙ†ْتُÙ…ْ Ù…ُسْÙ„ِÙ…ُونَ
(“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102))

Jangan Merusak Amal yang Telah Dibangun

Allah memberikan perumpamaan yang menarik dalam Al-Qur’an:
ÙˆَÙ„َا تَÙƒُونُوا ÙƒَالَّتِÙŠ Ù†َÙ‚َضَتْ غَزْÙ„َÙ‡َا Ù…ِÙ†ْ بَعْدِ Ù‚ُÙˆَّØ©ٍ Ø£َنكَاثًا
(“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai berai kembali.” (QS. An-Nahl: 92))

Jika seseorang telah dilatih untuk taat kepada Allah, mendekat kepada-Nya, dan hatinya telah terbiasa dengan ibadah, maka tidak pantas baginya untuk menghancurkan apa yang telah ia bangun dengan susah payah. Justru, ia harus mempertahankan dan meningkatkannya agar amalnya tidak sia-sia.

Bersyukur dengan Melanjutkan Ketaatan

Masa setelah Ramadan adalah waktu untuk bersyukur kepada Allah atas karunia yang telah diberikan. Allah berfirman:
ÙˆَÙ„ِتُÙƒْÙ…ِÙ„ُوا الْعِدَّØ©َ ÙˆَÙ„ِتُÙƒَبِّرُوا اللَّÙ‡َ عَÙ„َÙ‰ٰ Ù…َا Ù‡َدَاكُÙ…ْ ÙˆَÙ„َعَÙ„َّÙƒُÙ…ْ تَØ´ْÙƒُرُونَ
(“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185))

Maksiat setelah ketaatan bukanlah bentuk syukur kepada Allah, melainkan pengingkaran terhadap nikmat-Nya. Bentuk syukur yang benar adalah dengan tetap melakukan ketaatan. Allah berfirman:
اعْÙ…َÙ„ُوا آلَ دَاوُودَ Ø´ُÙƒْرًا
(“Beramallah wahai keluarga Dawud sebagai bentuk syukur.” (QS. Saba’: 13))

Meneruskan Ibadah Puasa Setelah Ramadan

Meskipun puasa wajib di bulan Ramadan telah berakhir, kesempatan untuk berpuasa sunnah masih terbuka luas sepanjang tahun. Ada berbagai jenis puasa sunnah yang dapat dilakukan, seperti puasa Senin dan Kamis, puasa tiga hari setiap bulan, puasa Asyura (10 Muharram), puasa Arafah (9 Dzulhijjah), dan lain-lain. Salah satu amalan yang sangat dianjurkan setelah Ramadan adalah puasa enam hari di bulan Syawal. Rasulullah ï·º bersabda:
Ù…َÙ†ْ صَامَ رَÙ…َضَانَ Ø«ُÙ…َّ Ø£َتْبَعَÙ‡ُ سِتًّا Ù…ِÙ†ْ Ø´َÙˆَّالٍ Ùƒَانَ ÙƒَصِÙŠَامِ الدَّÙ‡ْرِ
“Barang siapa yang berpuasa Ramadan lalu mengikutinya dengan enam hari dari Syawal, maka seakan-akan ia berpuasa sepanjang tahun.” (HR. Muslim)

Puasa enam hari di bulan Syawal memiliki beberapa keutamaan, di antaranya:

• Menjadi tanda diterimanya puasa Ramadan, karena salah satu balasan kebaikan adalah kebaikan setelahnya.
• Sebagai bentuk syukur kepada Allah atas taufik yang diberikan untuk berpuasa Ramadan.
• Berfungsi seperti shalat sunnah yang menyempurnakan kekurangan dalam shalat fardhu, begitu pula puasa Syawal akan menyempurnakan kekurangan dalam puasa Ramadan.

Maka, hendaknya seorang mukmin terus menjaga amal saleh yang telah ia bangun di bulan Ramadan. Ingatlah bahwa hidup ini adalah kesempatan berharga untuk mengumpulkan pahala dan mendekatkan diri kepada Allah sebelum ajal menjemput. Sebagaimana perkataan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu: “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan timbanglah amal kalian sebelum amal kalian ditimbang.”

Ya Allah, segala puji bagi-Mu atas pintu-pintu kebaikan yang Engkau bukakan bagi kami. Segala puji bagi-Mu atas nikmat yang terus mengalir dan anugerah yang tak terhitung. Semoga Engkau menerima amal kami dan meneguhkan kami dalam ketaatan hingga akhir hayat. Aamiin.

Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq Al Badr

Posting Komentar untuk "Tetap Istiqamah Setelah Ramadan | Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr"