Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kaidah Kebahagiaan: Mensyukuri yang Ada, Merelakan yang Tiada

Kaidah Kebahagiaan: Mensyukuri yang Ada, Merelakan yang Tiada

Makna Kebahagiaan yang Hakiki

Dalam sebuah pertemuan, seseorang murid bertanya kepada Syaikh Walid tentang makna kebahagiaan yang sejati:

"Wahai Syaikh, adakah suatu kaidah atau prinsip yang menjelaskan hakikat kebahagiaan?"

Sang guru menjawab dengan bijak:

"Sesungguhnya ada sebuah kaidah tentang kebahagiaan, tetapi aku tidak tahu apakah engkau akan memahaminya atau tidak. Namun, justru itulah awal dari kegagalan dalam meraih kebahagiaan."

Kemudian, beliau menjelaskan:

"Kebahagiaan yang sejati adalah ketika seseorang menjadikan segala yang ia miliki sebagai penghibur hatinya atas apa yang tidak ia miliki. Sebaliknya, orang yang benar-benar sengsara adalah mereka yang menjadikan apa yang tidak dimilikinya sebagai sumber kesedihan yang menghalangi kebahagiaan dari apa yang telah ia miliki."

Beliau melanjutkan:

"Allah Azza wa Jalla telah memberikan sesuatu kepadamu dan menahan sesuatu darimu. Jika engkau dapat menghibur diri dengan apa yang telah diberikan dan tidak terlalu larut dalam kesedihan atas apa yang tidak diberikan, maka engkau akan hidup dalam kebahagiaan. Namun, jika engkau justru mengabaikan nikmat yang ada karena sibuk meratapi apa yang hilang atau tidak dimiliki, maka engkau akan hidup dalam penderitaan."

Kaidah ini begitu dalam dan sederhana, namun mencerminkan hakikat kebahagiaan dalam kehidupan manusia. Kebahagiaan bukan terletak pada memiliki segala sesuatu, tetapi pada bagaimana seseorang mensyukuri dan menikmati apa yang ada, tanpa membiarkan kekurangan menjadi sumber kesengsaraan.

Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu mensyukuri nikmat yang ada dan tidak terlarut dalam kesedihan atas sesuatu yang belum atau tidak kita miliki. Wallahu a’lam.

diterjemahkan
Tim Belajar Syariah

Posting Komentar untuk "Kaidah Kebahagiaan: Mensyukuri yang Ada, Merelakan yang Tiada"